Friday, June 15, 2012

A TESTIMONIAL FROM ZAIRE TO STOCKHOLM, PRAISE GOD !

Sebuah Kisah Nyata dari Afrika













Pada tahun 1921, dua pasang suami istri dari Stockholm (Swedia), menjawab panggilan Allah untuk melayani misi penginjilan di Afrika. Kedua pasang suami istri ini menyerahkan hidupnya untuk mengabarkan Injil dalam suatu kebaktian pengutusan Injil. Mereka terbeban untuk melayani negara Belgian Kongo, yang sekarang bernama Zaire. Mereka adalah David & Svea Flood, serta Joel & Bertha Erickson.


Setelah tiba di Zaire, mereka melapor ke kantor Misi setempat. Lalu dengan menggunakan parang, mereka membuka jalan melalui hutan pedalaman yang dipenuhi nyamuk malaria. David dan Svea membawa anaknya David Jr. yang masih berumur 2 tahun. Dalam perjalanan, David Jr. terkena penyakit malaria. Namun mereka pantang menyerah dan rela mati untuk Pekerjaan Injil. Tiba di tengah hutan, mereka menemukan sebuah desa di pedalaman. Namun penduduk desa ini tidak mengijinkan mereka memasuki desanya. "Tak boleh ada orang kulit putih yang boleh masuk ke desa. Dewa-dewa kami akan marah," demikian kata penduduk desa itu.

Karena tidak menemukan desa lain, mereka akhirnya terpaksa tinggal di hutan dekat desa tersebut. Setelah beberapa bulan tinggal di tempat itu, mereka menderita kesepian dan kekurangan gizi. Selain itu, mereka juga jarang mendapat kesempatan untuk berhubungan dengan penduduk desa. Setelah enam bulan berlalu, keluarga Erickson memutuskan untuk kembali ke kantor misi. Namun keluarga Flood memilih untuk tetap tinggal, apalagi karena saat itu Svea baru hamil dan sedang menderita malaria yang cukup buruk. Di samping itu David juga menginginkan agar anaknya lahir di Afrika dan ia sudah bertekad untuk memberikan hidupnya untuk melayani di tempat tersebut.

Selama beberapa bulan Svea mencoba bertahan melawan demamnya yang semakin memburuk. Namun di tengah keadaan seperti itu ia masih menyediakan waktunya untuk melakukan bimbingan rohani kepada seorang anak kecil penduduk asli dari desa tersebut. Dapat dikatakan anak kecil itu adalah satu-satunya hasil pelayanan Injil melalui keluarga Flood ini. Saat Svea melayaninya, anak kecil ini hanya tersenyum kepadanya. Penyakit malaria yang diderita Svea semakin memburuk sampai ia hanya bisa berbaring saja. Tapi bersyukur bayi perempuannya berhasil lahir dengan selamat tidak kurang suatu apa. Namun Svea tidak mampu bertahan. Seminggu kemudian keadaannya sangat buruk dan menjelang kepergiannya, ia berbisik kepada David, "Berikan nama Aina pada anak kita," lalu ia meninggal.

David amat sangat terpukul dengan kematian istrinya. Ia membuat peti mati buat Svea, lalu menguburkannya. Saat dia berdiri di samping kuburan, ia memandang pada anak laki-lakinya sambil mendengar tangis bayi perempuannya dari dalam gubuk yang terbuat dari lumpur. Timbul kekecewaan yang sangat dalam di hatinya. Dengan emosi yang tidak terkontrol David berseru, "Tuhan, mengapa Kau ijinkan hal ini terjadi? Bukankah kami datang kemari untuk memberikan hidup kami dan melayani Engkau?! Istriku yang cantik dan pandai, sekarang telah tiada. Anak sulungku kini baru berumur 3 tahun dan nyaris tidak terurus, apalagi si kecil yang baru lahir. Setahun lebih kami ada di hutan ini dan kami hanya memenangkan seorang anak kecil yang bahkan mungkin belum cukup memahami berita Injil yang kami ceritakan. Kau telah mengecewakan aku, Tuhan. Betapa sia-sianya hidupku!"

Kemudian David kembali ke kantor misi Afrika. Saat itu David bertemu lagi dengan keluarga Erickson. David berteriak dengan penuh kejengkelan: "Saya akan kembali ke Swedia! Saya tidak mampu lagi mengurus anak ini. Saya ingin titipkan bayi perempuanku kepadamu." Kemudian David memberikan Aina kepada keluarga Erickson untuk dibesarkan. Sepanjang perjalanan ke Stockholm, David Flood berdiri di atas dek kapal. Ia merasa sangat kesal kepada Allah. Ia menceritakan kepada semua orang tentang pengalaman pahitnya, bahwa ia telah mengorbankan segalanya tetapi berakhir dengan kekecewaan. Ia yakin bahwa ia sudah berlaku setia tetapi Tuhan membalas hal itu dengan cara tidak mempedulikannya.

Setelah tiba di Stockholm, David Flood memutuskan untuk memulai usaha di bidang import. Ia mengingatkan semua orang untuk tidak menyebut nama Tuhan didepannya. Jika mereka melakukan itu, segera ia naik pitam dan marah. David akhirnya terjatuh pada kebiasaan minum-minuman keras.

Tidak lama setelah David Flood meninggalkan Afrika, pasangan suami- istri Erikson yang merawat Aina meninggal karena diracun oleh kepala suku dari daerah dimana mereka layani. Selanjutnya si kecil Aina diasuh oleh Arthur & Anna Berg. Keluarga ini membawa Aina ke sebuah desa yang bernama Masisi, Utara Konggo. Di sana Aina dipanggil "Aggie". Si kecil Aggie segera belajar bahasa Swahili dan bermain dengan anak-anak Kongo. Pada saat-saat sendirian si Aggie sering bermain dengan khayalan. Ia sering membayangkan bahwa ia memiliki empat saudara laki-laki dan satu saudara perempuan, dan ia memberi nama kepada masing-masing saudara khayalannya. Kadang-kadang ia menyediakan meja untuk bercakap-cakap dengan saudara khayalannya. Dalam khayalannya ia melihat bahwa saudara perempuannya selalu memandang dirinya.

Keluarga Berg akhirnya kembali ke Amerika dan menetap di Minneapolis. Setelah dewasa, Aggie berusaha mencari ayahnya tapi sia-sia. Aggie menikah dengan Dewey Hurst, yang kemudian menjadi presiden dari sekolah Alkitab Northwest Bible College. Sampai saat itu Aggie tidak mengetahui bahwa ayahnya telah menikah lagi dengan adik Svea, yang tidak mengasihi Allah dan telah mempunyai anak lima, empat putra dan satu putri (tepat seperti khayalan Aggie).

Suatu ketika Sekolah Alkitab memberikan tiket pada Aggie dan suaminya untuk pergi ke Swedia. Ini merupakan kesempatan bagi Aggie untuk mencari ayahnya. Saat tiba di London, Aggie dan suaminya berjalan kaki di dekat Royal Albert Hall. Ditengah jalan mereka melihat ada suatu pertemuan penginjilan. Lalu mereka masuk dan mendengarkan seorang pengkotbah kulit hitam yang sedang bersaksi bahwa Tuhan sedang melakukan perkara besar di Zaire. Hati Aggie terperanjat. Setelah selesai acara ia mendekati pengkotbah itu dan bertanya, "Pernahkah anda mengetahui pasangan penginjil yang bernama David dan Svea Flood?" Pengkotbah kulit hitam ini menjawab, "Ya, Svea adalah orang yang membimbing saya kepada Tuhan waktu saya masih anak-anak. Mereka memiliki bayi perempuan tetapi saya tidak tahu bagaimana keadaannya sekarang." Aggie segera berseru: "Sayalah bayi perempuan itu! Saya adalah Aggie - Aina!"

Mendengar seruan itu si Pengkotbah segera menggenggam tangan Aggie dan memeluk sambil menangis dengan sukacita. Aggie tidak percaya bahwa orang ini adalah bocah yang dilayani ibunya. Ia bertumbuh menjadi seorang penginjil yang melayani bangsanya dan pekerjaan Tuhan berkembang pesat dengan 110.000 orang Kristen, 32 Pos penginjilan, beberapa sekolah Alkitab dan sebuah rumah sakit dengan 120 tempat tidur.

Esok harinya Aggie meneruskan perjalanan ke Stockholm dan berita telah tersebar luas bahwa mereka akan datang. Setibanya di hotel ketiga saudaranya telah menunggu mereka di sana dan akhirnya Aggie mengetahui bahwa ia benar-benar memiliki saudara lima orang. Ia bertanya kepada mereka: "Dimana David kakakku ?" Mereka menunjuk seorang laki-laki yang duduk sendirian di lobi. David Jr. adalah pria yang nampak kering lesu dan berambut putih. Seperti ayahnya, iapun dipenuhi oleh kekecewaan, kepahitan dan hidup yang berantakan karena alkohol. Ketika Aggie bertanya tentang kabar ayahnya, David Jr. menjadi marah. Ternyata semua saudaranya membenci ayahnya dan sudah bertahun-tahun tidak membicarakan ayahnya. Lalu Aggie bertanya: "Bagaimana dengan saudaraku perempuan?" Tak lama kemudian saudara perempuannya datang ke hotel itu dan memeluk Aggie dan berkata: "Sepanjang hidupku aku telah merindukanmu. Biasanya aku membuka peta dunia dan menaruh sebuah mobil mainan yang berjalan di atasnya, seolah-olah aku sedang mengendarai mobil itu untuk mencarimu kemana- mana." Saudara perempuannya itu juga telah menjauhi ayahnya, tetapi ia berjanji untuk membantu Aggie mencari ayahnya.

Lalu mereka memasuki sebuah bangunan tidak terawat. Setelah mengetuk pintu datanglah seorang wanita dan mempersilahkan mereka masuk. Di dalam ruangan itu penuh dengan botol minuman, tapi di sudut ruangan nampak seorang terbaring di ranjang kecil, yaitu ayahnya yang dulunya seorang penginjil. Ia berumur 73 tahun dan menderita diabetes, stroke dan katarak yang menutupi kedua matanya. Aggie jatuh di sisinya dan menangis, "Ayah, aku adalah si kecil yang kau tinggalkan di Afrika." Sesaat orang tua itu menoleh dan memandangnya. Air mata membasahi matanya, lalu ia menjawab, "Aku tak pernah bermaksud membuangmu, aku hanya tidak mampu untuk mengasuhnya lagi." Aggie menjawab, "Tidak apa-apa, Ayah. Tuhan telah memelihara aku".

Tiba-tiba, wajah ayahnya menjadi gelap, "Tuhan tidak memeliharamu!" Ia mengamuk. "Ia telah menghancurkan seluruh keluarga kita! Ia membawa kita ke Afrika lalu meninggalkan kita. Tidak ada satupun hasil di sana. Semuanya sia-sia belaka!" Aggie kemudian menceritakan pertemuannya dengan seorang pengkotbah kulit hitam dan bagaimana perkembangan penginjilan di Zaire. Penginjil itulah si anak kecil yang dahulu pernah dilayani oleh ayah dan ibunya. "Sekarang semua orang mengenal anak kecil, si pengkotbah itu. Dan kisahnya telah dimuat di semua surat kabar." Saat itu Roh Kudus turun ke atas David Flood. Ia sadar dan tidak sanggup menahan air mata lalu bertobat. Tak lama setelah pertemuan itu David Flood meninggal, tetapi Allah telah memulihkan semuanya, kepahitan hatinya dan kekecewaannya.




Matius 24:14 Dan Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya."



Sumber : http://www.sabda.org/misi/saksi_isi.php?id=21

A TESTIMONIAL FROM KONGO

Kesaksian - Tembok Api


Berikut ini adalah sebuah kesaksian yang berasal dari Republik Demokrat Kongo saat di sana terjadi peperangan antara pemerintah dengan tentara pemberontak.

TEMBOK API

Pintu didobrak dengan keras saat tentara-tentara musuh memasuki rumah seorang pendeta muda. Semua tentara itu membawa senapan mesin dan mereka dalam posisi siap siaga untuk menembak. Rencana mereka adalah membunuh semua penduduk desa tersebut, dan dimulai dengan membunuh pendeta muda di desa itu bersama dengan keluarganya.

Keluarga kecil ini terpaku dan menunggu apa yang akan terjadi kemudian. Tentara-tentara itu diliputi dengan kebencian. "Tunggu sebentar," kata Pendeta itu, "biarkan kami berdoa sebentar sebelum kami mati." Seluruh anggota keluarga itu berlutut di lantai dan bergandengan tangan membentuk satu lingkaran, dan memohon pertolongan dari Allah. Setelah selesai berdoa, mereka berpikir para tentara akan segera menghujani tubuh mereka dengan peluru-peluru dari senapan mesin. Namun hal itu tidak terjadi. Perlahan-lahan keluarga itu bangkit berdiri dan melihat keajaiban -- para tentara telah meninggalkan rumah tersebut.

Beberapa bulan kemudian, mereka baru mengetahui apa yang menyebabkan para tentara itu meninggalkan desa tersebut. Hal itu terjadi ketika pendeta muda tadi sedang mengikuti persekutuan Kristen di kota lain dan dia saat itu sedang men-sharing-kan peristiwa yang baru dialaminya beberapa bulan yang lalu. "Para tentara tiba-tiba saja pergi meninggalkan rumah dan desa saya." Pendeta itu mengatakan bahwa sampai saat ini keluarganya dan para penduduk desa tidak mengetahui apa yang menyebabkan mereka meninggalkan desa tersebut.

"Mungkin saya dapat menjelaskannya kepada anda," sahut seseorang yang duduk di belakang. Ternyata dia adalah salah seorang tentara yang ikut mendobrak pintu rumah pendeta muda tadi. "Seperti yang anda ketahui, saya ada di sana saat kami memasuki rumah anda. Saya adalah tentara yang mengarahkan senapan di kepala anak-anak anda saat keluarga anda semua berlutut dan berdoa. Kemudian tiba-tiba sebuah tembok api muncul dan mengelilingi semua keluarga anda. Kami bahkan tidak dapat melihat anda karena terhalang oleh kobaran- kobaran api itu. Api itu sangat panas dan kami segera menyadari bahwa rumah itu akan segera terbakar, jadi kami cepat-cepat melarikan diri.

Ketika telah berada di luar, kami melihat rumah anda penuh dengan api - namun api itu tidak membakarnya dan kami segera melarikan diri dari desa itu juga. Mantan tentara itu melanjutkan kesaksiannya, "Beberapa waktu kemudian saya menyadari bahwa itu bukanlah api biasa seperti yang kami ketahui, tetapi itu adalah api yang dikirim oleh Allah. Jika dengan cara seperti itu cara Allah anda menjawab doa-doa yang anda naikkan, maka saya ingin mengenal-Nya juga. Saya sudah lelah bertempur dan membunuh orang. Itulah alasannya mengapa malam ini saya datang ke tempat ini."

Mantan tentara ini telah mengetahui bagaimana Allah menjawab doa dan bagaimana Dia memperhatikan orang-orang yang mengasihi-Nya. Mantan tentara ini perlu belajar sendiri bagaimana mengenal, mempercayai, dan mengalami Kasih Allah dalam hidupnya.

Sumber: S O O N, Issue no. 165



Sumber : http://www.sabda.org/misi/saksi_isi.php?id=50

A TESTIMONIAL FROM NORTH VIETNAM

Kesaksian - Kejahatan Apakah Yang Bisa Dilakukan Oleh Seorang Gadis Kecil


Empat petugas polisi tiba-tiba mendobrak memasuki rumah Linh Dao yang berusia sepuluh tahun. Mereka memaksa ayahnya, seorang pendeta bawah tanah di Vietnam Utara untuk tetap duduk, sementara pihak berwajib mengobrak-abrik rumah mencari Alkitab-Alkitab.

"Aku ingat ketika para polisi datang," kenang Linh Dao. "Mereka menggeledah ke seluruh rumah sepanjang pagi dan menanyakan berbagai macam pertanyaan. Berbicara dengan para polisi menakutkan, tetapi aku tahu apa yang sedang mereka cari, jadi aku berkonsentrasi untuk tidak takut atau gugup." Sementara polisi menanyai orangtuanya, Linh dengan berani menyembunyikan beberapa Alkitab di dalam ransel sekolahnya.

Ketika polisi bertanya kepadanya mengenai isi dari ransel itu, Linh hanya menjawab, "Ini adalah buku untuk anak-anak."

Ayah Linh Dao ditangkap pada hari itu juga dan ia dijatuhi hukuman tujuh tahun pendidikan ulang melalui kerja paksa.

"Ketika para polisi memutuskan untuk membawa pergi ayahku, seluruh keluarga kami berlutut dan berdoa. Aku berdoa terlebih dahulu, kemudian saudara perempuanku, kemudian ibuku, dan yang paling akhir, ayahku. Aku berdoa supaya ayahku akan memperoleh kedamaian dan tetap sehat dan supaya keluargaku bisa selamat dalam masa-masa sulit itu. Kami semua menangis, tetapi aku mengatakan kepada diriku sendiri bahwa aku harus menghadapi apa yang sedang terjadi saat ini."

Berita dengan cepat tersebar mengenai penangkapan itu, dan anak-anak tetangga mulai menanyai Linh tindakan kriminal apakah yang telah dilakukan ayahnya. Ia mengatakan kepada teman-temannya, "Ayahku bukanlah seorang kriminal. Ia adalah orang Kristen, dan aku bangga padanya karena tidak goyah dalam imannya!"

Sementara hari berlalu, Linh Dao membuat tanda pada sampul buku kayunya, sementara ia berdoa bagi ayahnya. Ia ingat, "Aku menangis hampir setiap malam karena aku kuatir bagaimana keadaan ayahku di penjara dan bagaimana para polisi memperlakukannya."

"Sebelum ayahku dimasukkan ke dalam penjara, aku hanyalah seorang anak. Aku tidak perlu kuatir atas apa pun juga. Banyak yang berbeda setelah ayahku pergi. Pikiranku menjadi lebih dewasa dengan cepat. Aku mengatakan kepada saudara perempuanku bahwa kita harus membantu ibu melakukan pekerjaan di sekitar rumah, supaya ia dapat melanjutkan untuk melakukan pekerjaan ayahku di dalam gereja."

"Aku berdoa setiap hari dan setiap malam. Imanku bertumbuh amat pesat. Aku tahu satu hal dimana aku harus berkonsentrasi adalah menghabiskan waktu untuk belajar dari Alkitab, supaya ketika aku dewasa, aku bisa menjadi seperti ayahku, membagikan dan berkotbah. Ketika aku berpikir mengenai hal ini, aku merasakan hatiku membara di dalamku, mendorongku, mengatakan kepadaku bahwa hal ini adalah hal yang benar untuk dilakukan."

Akhirnya, setelah lebih dari setahun, Linh, ibu, dan adiknya dapat mengunjungi ayah mereka di penjara. Ketika mereka tiba di halaman berpagar, mereka dipisahkan oleh gerbang yang dirantai. Linh dengan cepat mendapati bahwa ia dapat menyelusup melewati sebuah gerbang yang dirantai. Ia berlari kepada ayahnya dan memeluknya dengan erat.

Para penjaga mengamati gadis kecil itu, tetapi secara mengejutkan, membiarkannya. Kejahatan apakah yang dapat dilakukan oleh seorang gadis kecil? Pasti mereka berpikir demikian.

Sedikit yang mereka ketahui! Bersenjatakan kepolosan dan iman anak kecil, anak-anak adalah senjata rahasia melawan kerajaan Iblis. Selama kunjungan pertamanya ke penjara ayahnya, Linh berhasil menyelundupkan kepadanya sebuah pena, yang ia pergunakan untuk menulis ayat-ayat dan khotbah-khotbah pada kertas rokok. "Khotbah rokok" ini berkeliling dari sel ke sel dan merupakan alat untuk membawa banyak tahanan kepada Kristus.

Doa-doa Linh Dao dijawab. Ayahnya dibebaskan lebih cepat, sebelum ia menjalani tujuh tahun dari masa hukumannya. "Sungguh kejutan yang besar, pada satu hari ketika aku pulang dari sekolah, dan melihat ayahku telah dibebaskan dari penjara. Aku berlari dan kemudian memberikan kepadanya pelukan yang erat. Kami amat bersukacita. Aku bangga akan keluargaku dan ingin berteriak, dan membiarkan seluruh dunia tahu bahwa aku tidak takut akan apa pun karena Allah selalu melindungi tiap langkah yang kuambil dalam hidupku."

Kini Linh Dao sudah remaja. Ia rindu untuk mengikuti jejak ayahnya dan menjadi pengkhotbah Injil dari Yesus Kristus. Ia tahu dari tangan pertama, bahaya-bahaya karena membagikan imannya di Vietnam Komunis dan tetap berkemauan untuk lebih menaati Kristus daripada manusia. Walau terdapat "masa depan yang suram," ia menghabiskan waktunya dengan mempelajari Alkitab secara intensif. (Linh Dao, Vietnam, 1991)

Bahan dikutip dari sumber:Judul Buku : Jesus Freaks
Judul Artikel : Kejahatan Apakah yang Bisa Dilakukan oleh Seorang Gadis Kecil
Penulis : DC Talk dan The Voice of the Martyrs
Penerbit : Cipta Olah Pustaka,
Halaman : 253-255



Sumber : http://www.sabda.org/misi/saksi_isi.php?id=93

A TESTIMONIAL FROM CHINA

Sebuah kisah nyata - Natal di China


Sekitar 26 tahun yang lalu, ada bencana besar yang terjadi di China dan berlangsung selama 10 tahun. Selama jangka waktu tersebut, banyak orang percaya di China dianiaya dan dibunuh. Orangtuaku termasuk diantaranya.

Oleh karena latar belakang kepercayaan orangtua, aku dianggap "black child" dari keluarga revolusioner. Tidak ada seorang pun yang berani memeliharaku. Aku tidak punya tempat tinggal dan mulai menjalani hidup mandiri pada saat berusia 9 tahun. Sejak itu, untuk mendapatkan uang, aku menolong orang untuk mendorong kereta-kereta mereka. Malam harinya, aku tidur di jalanan. Saat itu sedang musim hujan dan salju, tidak seorang pun bekerja di luar dan aku tidak punya mata pencaharian. Lapar dan dingin menjadi bagian dari hidupku sehari-hari.

Satu setengah tahun kemudian, aku bertemu dengan seseorang yang berusia lebih dari 50 tahun. Aku memanggil dia paman Shen. Dia seorang Kristen yang taat. Ketika tahu bahwa aku tuna wisma, dia memutuskan untuk merawat aku. Sebenarnya, paman Shen telah melarikan diri dari penjara dan dia tidak memiliki keluarga. Dia bertanya apakah aku mau tinggal dengannya. Aku setuju karena aku tahu dia seorang yang baik.

Paman Shen memutuskan untuk pergi ke bagian barat laut China karena dia berpikir keadaan di sana jauh lebih aman. Kebanyakan tempat di bagian tersebut sangatlah miskin. Sebagian besar penduduk di wilayah pedesaan tidak berpendidikan. Mereka tidak dapat membaca ataupun memperbaiki mesin-mesin yang mereka miliki, Paman Shen adalah seorang ahli mekanik, jadi dia pergi ke banyak wilayah untuk memperbaiki mesin-mesin para petani. Dia mendapatkan makanan dan penginapan sebagai gantinya. Karena tidak ada banyak mesin di satu wilayah, maka kami sering berpindah-pindah tempat agar dapat terus bekerja. Jika tidak demikian, kami tidak dapat bertahan hidup.

Suatu hari, di penghujung bulan Desember 1970, kita sama sekali tidak punya pekerjaan. Paman Shen memutuskan untuk mencari kerja di tempat lain. Kami berada di wilayah yang termiskin di China dan bermalam di gubuk yang biasa disebut "Grand Horsecart Inn." Suara- suara binatang membuat aku terjaga dan secara tidak sadar terlintas di pikiran tentang orangtuaku. Peristiwa saat mereka ditangkap terbayang lagi; ayahku diikat dan dipukuli berkali-kali sampai dia tidak dapat berdiri lagi ... sedangkan ibu dipaksa untuk berlutut, rambutnya dicukur habis dan wajahnya dilumuri dengan tinta hitam.

Saat memikirkan mereka, aku bertanya pada diri sendiri, "Dimanakah mereka saat ini? Apakah mereka sudah meninggal? Apakah aku dapat melihat mereka lagi?" Aku tidak dapat menahan kepedihan dan airmata yang membanjiri wajahku.

Aku tidak sadar kalau paman Shen juga terjaga, dan dia mendengar isakan tangisku. Dengan lembut dia meraih tanganku dan mencoba menghiburku. Kami duduk di tumpukan jerami kering tanpa bicara sepatah katapun. Beberapa saat kemudian, ketika melihat airmata yang mulai mengering, dengan suara lembut paman Shen bertanya, "Apakah kamu masih mengantuk?"

Aku dengan tegas menjawab, "Tidak, aku tidak mengantuk sama sekali." "Tahukah kamu, hari apakah ini?" tanya paman Shen. "Tidak secara pasti. Setahu aku, ini adalah minggu terakhir di tahun ini."

Paman Shen lalu berkata, "Hari ini adalah tanggal 25 Desember, hari Natal. Hari ini kita merayakan kelahiran Yesus. Tetapi, tahukah kamu bagaimana penderitaan yang dialami Yesus sebelum Dia disalibkan?"

Paman Shen berbicara seakan-akan tahu bahwa aku sedang memikirkan tentang bagaimana penderitaan yang dialami orangtuaku sebelum mereka ditangkap dan dibawa pergi entah ke mana. Paman Shen mengutip ayat- ayat dalam Injil Matius 27:28-30, 'Mereka menanggalkan pakaian-Nya dan mengenakan jubah ungu kepada-Nya. Mereka menganyam sebuah mahkota duri dan menaruhnya di atas kepala-Nya, lalu memberikan Dia sebatang buluh di tangan kanan-Nya. Kemudian mereka berlutut di hadapan-Nya dan mengolok-olokkan Dia, katanya: "Salam, hai Raja orang Yahudi!" Mereka meludahi-Nya dan mengambil buluh itu dan memukulkannya ke kepala-Nya.'

Saat paman Shen mengucapkan ayat-ayat tersebut, hatiku tersentak. Melalui penderitaan yang dialami orangtuaku, aku mencoba membayangkan bagaimana penderitaan yang dialami Yesus, Allahku, sebelum Dia disalib dan bagaimana kematian-Nya. Paman Shen melanjutkan kutipan ayatnya, " ...tetapi seorang dari antara prajurit itu menikam lambung-Nya dengan tombak, dan segera mengalir keluar darah dan air." (Yohanes 19:34)

Saat itu juga, seolah-olah hati aku merasakan kepedihan itu dan aku berkata dalam hati, "Yesus, ALLAH yang disembah orangtuaku dan paman Shen, adalah Allahku juga."

Hari masih subuh saat itu, keadaan masih sepi dan dingin. Terhanyut oleh suasana saat itu, aku tidak tahu secara pasti kapan paman Shen mulai menyanyikan sebuah lagu, "Malam Kudus, sunyi senyap. Bintang- Mu gemerlap. Juruselamat manusia, telah datang ke dunia ..."

Sejak saat itu, 20 tahun telah berlalu. Namun, aku masih merasa seperti hari kemarin. Aku masih dapat merasakan kehadiran paman Shen di sampingku dan mendengar nyanyiannya. Aku masih ingat dan mendengar paman Shen menceritakan tentang kelahiran Yesus:

Yusuf dan Maria pergi ke Betlehem dari Nazareth untuk mendaftarkan diri. Mereka melakukan perjalanan sejauh 100 mil, yang sangat sulit bagi mereka karena Maria sedang mengandung. Malam itu, Yesus lahir di sebuah kandang, sama seperti "Grand Horsecart Inn" tempat dimana aku dan paman Shen bermalam saat itu. Di kandang yang dingin itu, palungan adalah satu-satunya tempat bagi bayi Yesus. Pada malam yang dingin itulah Tuhan Yesus datang ke dunia ini dan memulai kehidupan- Nya sebagai Anak Allah. Pada malam itu, di sebuah tempat yang bersahaja, Tuhan Yesus telah lahir. Tempat yang tidak terlalu jauh dari Golgota, dimana 33 tahun kemudian Dia dipakukan di atas kayu salib.

Di malam yang dingin, beribu tahun yang lalu, tidak ada Santa Claus, tidak ada lampu-lampu gemerlap, tidak ada pohon Natal, tidak ada pertemuan keluarga ... malam yang dingin ... malam yang kudus!

[[Catatan: Selama hidupnya Penulis telah dipenjarakan dua kali di China karena imannya kepada Yesus.]]

Sumber:
Kesaksian ini diterjemahkan dan diedit dari salah satu posting kesaksian dalam milis "e-Forum WPC."
Judul Asli: "A True Story of Christmas in China"


Sumber : http://www.sabda.org/misi/saksi_isi.php?id=64

A TESTIMONIAL NORTH AFRICA

Kesaksian - Baju Putih


"Hawa Ahmed adalah seorang mahasiswa non-Kristen di Afrika Utara. Suatu hari, dia membaca traktat Kristen di asramanya dan dia memutuskan untuk menjadi seorang Kristen. Ayahnya adalah seorang Emir (penguasa Muslim). Dapat dipastikan bahwa dia akan kehilangan warisan keluarganya jika dia menyatakan pertobatannya. Dia benar- benar belum siap untuk menghadapi sesuatu yang terjadi berikut ini.

Ketika Hawa memberitahu keluarganya bahwa dia telah menjadi Kristen dan mengganti namanya menjadi Faith, ayahnya benar-benar murka. Ayah dan kakak-kakaknya yang laki-laki melucuti pakaiannya dan mengikatnya di sebuah kursi yang dipasangi sebatang logam. Mereka bermaksud menghukumnya dengan arus listrik. Faith meminta mereka untuk meletakkan Alkitab di atas pangkuannya. Ayahnya menjawab, "Jika kau ingin mati bersama dengan kepercayaanmu yang salah, jadilah seperti yang kau inginkan." Salah satu kakaknya menambahkan, "Itu akan menunjukkan bahwa kepercayaanmu tidak punya kuasa."

Meskipun dalam keadaan terikat, Faith dapat menyentuh ujung Alkitabnya. Dia merasakan kedamaian meliputi hatinya, seolah-olah ada seseorang yang berdiri di sampingnya. Ketika ayah dan kakaknya memasukkan steker ke dalam soketnya - tidak terjadi apapun -- dan tidak ada sesuatupun yang terjadi. Mereka mencoba sampai 4 kali dan mengganti kabelnya, tetapi listrik tetap tidak mengalir juga. Akhirnya, ayah Faith, karena frustasi dan marah, dia memukul, mengusirnya serta berteriak, "Kau bukan anakku lagi." Lalu dia melemparkan anak perempuannya itu ke jalanan tanpa sehelai baju melekat di tubuhnya.

Faith berlari menyusuri jalan, merasa terhina dan dipermalukan. Banyak orang memandangnya dan shock melihatnya. Dalam keadaan gemetar karena kedinginan dan sambil berlinang air mata, Faith berlari menuju ke rumah seorang temannya. Temannya mempersilakan Faith masuk, memberinya pakaian dan tempat bernaung. Hari berikutnya, temannya itu bertanya kepada para tetangga tentang apa yang mereka lihat dan pikirkan saat melihat Faith berlarian tanpa busana di jalanan. "Aku tidak mengerti yang kau tanyakan?" mereka bertanya. "Gadis itu memakai baju putih yang sangat indah. Bahkan kami bertanya-tanya kepada diri kami sendiri mengapa ada seseorang yang memakai baju putih seindah itu berlarian di sepanjang jalan." Saat ini Faith bekerja sebagai evangelis fulltime di EHC.

Sumber: JOEL-NEWS-INTERNATIONAL-396

Cat. Red.:
Masih banyak orang mengalami seperti yang Faith alami, baik yang ada di Afrika Utara ataupun di negara-negara yang tertutup bagi Injil. Berdoalah agar Allah senantiasa memberikan kekuatan, berkat, dan bimbingan agar mereka dapat terus bertahan menghadapi setiap rintangan yang mencoba menghambat pertumbuhan iman mereka.



Sumber : http://www.sabda.org/misi/saksi_isi.php?id=14

A TESTIMONIAL FROM HIMALAYA

Kesaksian - Revival Di Himalaya


Beberapa tahun yang lalu pada waktu Natal yang bersalju, Kaleb (bukan nama sebenarnya) ingin pergi berbelanja. Dia adalah orang baru di Himalaya dan ingin jalan-jalan di kota sebelum meneruskan perjalanannya. Ketika itu dia memperhatikan para pejalan kaki berkerumun mengelilingi seorang gadis yang tidak sadarkan diri karena kerasukan. Gadis itu berteriak dan memutuskan rantai yang dipakai orang-orang untuk mengikatnya. Seorang dukun mencoba untuk mengusir kuasa jahat itu, tetapi tidak menunjukkan hasil.

Meskipun merasa tidak pasti, Kaleb berjalan melalui kerumunan itu sambil membawa belanjaannya. Kata Kaleb: "Namun dalam hati, saya merasa yakin bahwa Yesus yang berkuasa dalam diri saya mampu menolong gadis itu. Jadi saya putuskan untuk berbalik mendekati kerumunan itu dan menyampaikan keinginan saya untuk mendoakan gadis itu."

"Dukun yang ada hanya tersenyum, dan dia menunjukkan daftar panjang dari persembahan-persembahan yang seharusnya disediakan oleh keluarga gadis itu jika mereka menginginkan untuk mengusir kuasa-kuasa jahat itu. Dukun itu juga berkata bahwa saya tidak mengetahui betapa kuat roh-roh jahat yang menguasai si gadis. Meskipun demikian, saya tetap tenang, dan akhirnya diperbolehkan untuk mendoakannya dalam nama Yesus. Saya mendoakan gadis itu dan beberapa saat kemudian dia merasa tenang dan akhirnya dibebaskan dari pengaruh roh-roh jahat. Peristiwa ini menarik banyak orang dan mereka mulai bertanya dimana saya tinggal dan siapa saya sebenarnya."

"Jam 05.00 keesokan paginya, kami sekeluarga dibangunkan oleh ketukan yang keras: sekitar 70 orang penduduk lokal berdiri di depan rumah sambil membawa obor. Mereka bertanya apakah Yesus tinggal di rumah kami. Dengan pasti kami menjawab, 'Ya', karena Yesus tinggal dalam diri kami. Semula kami berpikir bahwa gadis yang saya tolong kemarin kambuh lagi dan mereka datang untuk membunuh kami. Namun ternyata bukan itu masalahnya! Mereka membawa sejumlah orang sakit dan memohon kami agar bersedia mendoakan orang-orang sakit itu sebelum kami pindah tempat tinggal. Sungguh mengejutkan: setiap kali menumpangkan tangan kepada seseorang yang sakit, saya tahu dengan pasti apa yang perlu didoakan. Setiap orang sakit yang kami doakan disembuhkan atau dibebaskan dari pengaruh roh-roh jahat. Banyaknya penduduk yang datang mengalir ke tempat kami telah mencegah kami untuk melanjutkan perjalanan sesuai rencana pada hari itu. Kami berdoa dengan mereka sampai jam 20.00 malam. Kemungkinan ada sekitar 3.000 orang yang hadir di tempat kami. Kami memanfaatkan kesempatan tersebut semampu kami untuk mensharingkan tentang Yesus, dan kami memutuskan untuk tetap tinggal di kota itu."

"Dalam waktu singkat, banyak orang yang menyatakan keinginan mereka untuk mengikut Yesus dan rindu untuk dibaptis. Lalu kami mulai mengatur mereka untuk membuka gereja-gereja rumah. Gerakan ini sungguh luar biasa dan saya perkirakan mereka yang menerima Kristus itu adalah 10% dari total populasi di wilayah tersebut!"

"Saya kadang-kadang memikirkan apa yang akan terjadi jika saya mengabaikan suara Yesus yang mendorong saya untuk mendoakan gadis yang kerasukan roh-roh jahat di jalan beberapa hari yang lalu."

Sumber: JOEL-NEWS-INTERNATIONAL-399 * 3 APRIL 2002 *


Sumber : http://www.sabda.org/misi/saksi_isi.php?id=65

A TESTIMONIAL FROM NORTH KOREA

Kesaksian - Lebih Banyak Kasih Bagi-Mu


Selama bertahun-tahun, Pendeta Kim dan 27 orang yang digembalakannya di Korea hidup dalam lorong-lorong bawah tanah yang digali dengan tangan mereka sendiri. Ketika orang Komunis sedang membangun jalan, mereka menemukan orang-orang Kristen yang hidup di bawah tanah tersebut.

Para petugas membawa mereka keluar di hadapan 30.000 orang di desa Gok San untuk disidang di hadapan publik dan dieksekusi. Para petugas tersebut berkata, "Sangkallah Kristus, atau kalian akan mati." Tetapi orang-orang Kristen tersebut menolak perintah itu.

Pada saat itu, kepala pasukan petugas Komunis telah memerintahkan agar empat anak-anak dari orang percaya tersebut disiapkan untuk digantung. Dengan tali-tali diikat di sekeliling leher-leher mereka yang kecil, para petugas sekali lagi memerintahkan para orang tua itu untuk menyangkal Kristus.

Tidak seorang pun dari para orang percaya mau menyangkal iman mereka. Mereka mengatakan kepada anak-anak mereka, "Sebentar lagi kami akan melihat kalian di surga." Anak-anak itu meninggal tanpa suara.

Kepala pasukan petugas itu kemudian memanggil agar mesin penggiling jalanan. Ia memaksa para orang Kristen untuk berbaring di tanah. Sementara mesinnya berputar, mereka kembali diberikan satu kesempatan terakhir untuk menyangkal iman mereka kepada Kristus. Sekali lagi mereka menolak.

Sementara mesin penggiling mulai beringsut maju, para orang Kristen mulai menyanyikan sebuah lagu yang telah sering mereka nyanyikan bersama-sama. Sementara tulang-tulang dan tubuh-tubuh mereka diremukkan di bawah tekanan dari mesin penggiling raksasa, bibir mereka terus mengucapkan kata-kata.

Eksekusi ini dilaporkan di koran-koran Korea Utara sebagai aksi menekan takhayul.

Sepanjang sejarah, para "penggila Yesus" (Jesus Freak) telah bernyanyi dalam masa-masa terakhir mereka di bumi. Diiringi rasa takjub dari para penyiksa mereka, dengan penuh sukacita mereka mengangkat suara mereka dalam pujian kepada Allah.

"Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami. Sebab kami tidak memerhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal." (2 Korintus 4:17-18)

Diambil dan disunting seperlunya dari:Judul buku : Jesus Freaks
Penulis : Toby McKeehan dan Mark Heimermann
Penerbit : Cipta Olah Pustaka
Halaman : 130 -- 131


Dipublikasikan di: http://kesaksian.sabda.org/lebih_banyak_kasih_bagimu

TESTIMONIAL - A VISION FROM A PRISONER

Kesaksian - Penglihatan Malam di Irak


"Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu." (Yohanes 14:2)

MH seorang penginjil Irak, yakin upahnya di kekekalan nanti salah satunya adalah rumah di Surga. Apa yang dia tidak harapkan adalah Allah mempersiapkan dia terlebih dahulu di sebuah tempat -- di salah satu penjara terkeji milik Saddam Hussein.

Orang-orang Irak menyebut penjara keamanan Baghdad sebagai "Kapal Putih", karena terang yang ditimbulkan oleh tembok bagian luar yang kadang kala berkilauan terkena sinar matahari. Penjara ini sangat besar dan berbentuk kotak, mengingatkan mereka akan sebuah kapal besar. Di penjara tersebut ada satu ruangan penyiksaan yang disebut "rumah merah". Mereka mengatakan bahwa kekejaman Saddam membuat para penghuni penjara menjadi gila. Bekas diktator Irak ini memerintahkan dinding penjara di cat merah darah.

Bulan Februari lalu, MH dan tujuh orang pemimpin Kristen lainnya, ditangkap di rumah pertemuan mereka oleh polisi rahasia Saddam. Seratus orang percaya dijebloskan ke dalam ruangan yang remang-remang, di mana mereka baru saja menyanyikan lagu pujian, "Kami Memberikan Kepadamu Segala Kemuliaan" ketika 15 agen berpakaian preman, bersenjata pistol, dan "walki-talki" menerobos pintu.

MH mengatakan kepada perwakilan salah satu lembaga Kristen bahwa polisi memerintahkan mengakhiri ibadah dan mereka menggunakan cara-cara yang kasar dan meminta semua tenang. "Semua duduk, tidak ada yang boleh berbicara, kata MH". Salah satu petugas mengeluarkan sepucuk kertas dan mulai memanggil nama-nama kami. Mereka mengenal nama semua orang di ruangan ini satu persatu! Penginjil muda ini akhirnya menyadari bahwa Saddam telah mengirimkan seorang mata-mata ke dalam gereja mereka. Hari ini, mereka menganggap orang yang mengkhianati mereka sebagai "Yudas".

Jemaat gereja tahu bahwa persekutuan mereka ilegal. Rezim Saddam Hussien hanya mengizinkan orang-orang Kristen beribadah di dalam gedung-gedung gereja yang sudah didaftarkan kepada pemerintah. Suatu waktu, pejabat pemerintah memberikan izin kepada orang-orang percaya untuk mengadakan suatu pesta. Pejabat tersebut mengira ini adalah pesta seperti pada umumnya, tetapi sebenarnya bukan, melainkan KKR. Acara ini ketahuan oleh polisi. Izin tidak diberikan bagi acara khotbah dan puji-pujian. Delapan orang jemaat gereja diborgol, ditutup matanya, dan dibawa dengan cepat dengan "van" yang tidak berjendela.

Pada saat di penjara, MH dibawa ke ruangan interogasi. Seorang penjaga menahan MH di kursi, sementara yang lainnya menampar mukanya. "Kami akan menahanmu di penjara bawah tanah dan menyiksamu, dan kamu akan tahu mengapa kamu ada di sini!" kata salah satu penyiksanya. "Tidak ada tahanan yang dibiarkan hidup pada saat mereka ada di tempat ini. Jika kamu tidak mengatakan kepada kami yang sebenarnya, kamu akan mati hari ini".

Penjaga yang lain masuk ke ruangan dan menggunakan tinjunya memukul muka dan tubuh MH. Dia meminta informasi mengenai kepercayaan yang dianut oleh MH dan susunan organisasi gereja. Mendekati satu jam kemudian, MH yang mukanya memar diberi pakaian khusus tahanan penjara bernomor XX dan selnya bernomor XX.

"Ia telah mengutus aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang sengsara, dan merawat orang-orang yang remuk hati, untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan kepada orang-orang yang terkurung kelepasan dari penjara." (Yesaya 61:1)

MH berbagi ruangan yang berukuran 2,5 x 2 meter dengan lima orang "beragama lain" -- dua orang Suni dan tiga orang Syiah. MH berdoa dan meminta Allah memakainya untuk membebaskan teman selnya dari "penjara rohani" mereka dengan mengenalkan mereka kepada Kristus. Dia menggenggam pecahan batu dan menulis nama Yesus di dinding sel penjara dan menggambar salib di sampingnya. Salah seorang Syiah bernama S meminta penjelasan kenapa MH menulis seperti itu. "Kamu harusnya berdoa kepada allah atau pemimpin 'agama lain'", kata S. "Kenapa kamu berharap kepada Yesus untuk menolongmu?"

MH menjelaskan bahwa dia memiliki hubungan yang intim dengan Tuhan, dan Yesus telah melakukan banyak mukjizat kepadanya. Dia yakin Yesus akan melakukan mukjizat yang lain dan membebaskannya dari penjara. "Aku bertanya balik kepada S, kenapa aku harus berdoa kepada seorang manusia yang mati?" "Aku mengatakan kepadanya, aku lebih memilih berdoa kepada Allah yang hidup. Yesus hidup, sedangkan semua nabi mati dan dikubur di tanah". S memandang rendah MH. Dia mengatakan kepadanya bahwa dia bukan orang yang baik karena dia tidak percaya pada ajaran agamanya. MH terus berdoa untuk S dan teman satu selnya.

Beberapa minggu selanjutnya, MH terbangun pada saat S mencium kedua tangan dan pipinya. MH dan teman satu selnya terkejut melihat perubahan hati S. Jadi, mereka memintanya menjelaskan apa yang terjadi. S mengatakan, Yesus muncul di hadapannya dan mengatakan kepadanya bahwa MH akan dibebaskan dari penjara. "Dia muncul di depanku ketika aku sedang tidur", kata S. "Dia berpakaian putih dan aku tidak dapat melihat wajah-Nya, karena wajah-Nya memancar lebih terang daripada matahari dan membutakanku."

S bertanya kepada orang itu siapa Dia, dan Dia menjawab, "Yesus Kristus". Yesus menunjuk kepada MH dan mengatakan kepada S, tidak usah khawatir terhadap MH. Aku yang bertanggung jawab atas MH, dan Aku akan membebaskannya dari tempat ini, kata Yesus. Bagaimana denganku? Kata S. Yesus menghilang tanpa menjawab pertanyaannya.

"Dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu." (Yohanes 8:32)

MH menjelaskan kepada teman satu selnya bahwa Yesus muncul untuk membuktikan bahwa MH milik-Nya dan apa yang dikatakan-Nya adalah kebenaran. Dengan segera teman-temannya berlutut dan mulai berdoa, meminta Yesus juga membebaskan mereka dari penjara. Mimpi S menjadi kenyataan satu minggu kemudian, seperti halnya MH dan semua orang Kristen yang ditahan bersama dia juga dibebaskan.

Beberapa bulan kemudian, salah seorang penginjil yang dibebaskan bernama J, bercerita kepada salah seorang perwakilan sebuah lembaga Kristen. "Yesus mengatakan kepadaku, Saddam akan memberikanku suatu bingkisan. Ketika aku dibebaskan, aku tidak mengatakan apa-apa. Aku hanya tersenyum, karena aku tahu bingkisan tersebut adalah kebebasanku yang datangnya dari Tuhan, bukan presiden".

J percaya dia selamat dari "rumah merah," karena walaupun secara fisik ditekan di dalam kegelapan, dijejalkan ke dalam sel penjara, dia secara spiritual sudah dibebaskan di dalam Kristus. Tuhan telah membebaskannya jauh sebelum Saddam Hussein membebaskannya dari kurungan fisik. J aktif di gerejanya dan menghabiskan banyak waktunya untuk melayani sesama. Dia membagikan traktat-traktat Injil dan kadang kala bersaksi kepada orang-orang Irak.

"Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik." (2 Timotius 3:16-17)

Kami memuji Allah karena kemunculan yang luar biasa dari Anak-Nya, Yesus, kepada anak-anak-Nya di Irak. Tetapi membangun gereja tidak hanya berdasarkan pada mukjizat-mukjizat dan penglihatan-penglihatan. Gereja harus dibangun di atas dan berakar dalam firman Tuhan.

Pokok doa:
Doakan J dan MH agar tetap menjadi alat Tuhan untuk bersaksi tentang Kristus di Irak.
Doakan gereja-gereja di Irak agar terus bertumbuh dan berakar dalam firman Tuhan.
Doakan umat Kristen yang masih ditahan di penjara Irak karena iman kepada Kristus, agar mereka tetap menaruh harapan dan beroleh kekuatan dari Kristus.

Diambil dari:Nama buletin : Kasih Dalam Perbuatan, Edisi November - Desember 2003
Penulis : Tidak dicantumkan
Penerbit : Yayasan Kasih Dalam Perbuatan, Surabaya
Halaman : 5 -- 7


Sumber : http://sabda.org/misi/penglihatan-malam-di-irak

TESTIMONIAL - I'M THE WAY, TRUTH, AND LIFE

Kesaksian - Akulah Jalan, Kebenaran, dan Hidup


"Saat kalian menangkap para kafir itu, pukuli mereka! Allah akan senang," Zahid memberi mereka semangat. Kerumunan yang terdiri dari pria-pria muda, kaum muda dari rumah ibadahnya, mengayunkan tongkat dan pipa besi dan bersorak dalam kesepakatan. Ia merasa dalam keadaan baik-baik saja sebagai seorang petinggi agama yang masih muda. Dan ia merasa orang tuanya akan bangga. Dalam beberapa menit, ia dan teman-temannya menyisiri jalan-jalan desa dan mencari orang-orang Kristen untuk dijebak.

Zahid memiliki garis keturunan yang membanggakan di Pakistan. Ayah dan abangnya merupakan petinggi agama dan Zahid telah mengikuti jejak mereka. Setelah ditugaskan di rumah ibadahnya untuk pertama kalinya, kebencian Zahid terhadap orang Kristen mulai tampak dan ia mulai mengumpulkan para pengikutnya untuk menentang mereka.

Pemerintahannya makin lama makin terpengaruh oleh salah satu hukum agama yang menuntut kematian bagi siapa pun yang didapati bersalah karena penghujatan atas nabi dan kitab suci mereka. Saat kegilaan mereka memuncak, Zahid memimpin kelompoknya ke jalan-jalan, dan tidak diperlukan waktu yang lama sampai mereka menemukan sekelompok orang Kristen muda untuk diserang, pada saat dikejar salah satu dari antara mereka menjatuhkan Alkitabnya.

Seorang anggota kelompok Zahid memungut Alkitabnya dan membukanya untuk merobek-robek halamannya. Zahid senantiasa memberitahu para pengikutnya untuk membakar semua Alkitab yang telah mereka kumpulkan. Tetapi kali ini Zahid merasakan keinginan yang aneh untuk menyimpan dan mempelajarinya serta mencari kesalahan-kesalahan yang ada di dalamnya.

Zahid melaporkan dalam kata-katanya sendiri apa yang terjadi karena menyimpan Alkitab itu: "Aku sedang membaca Alkitab, mencari kontradiksi-kontradiksi yang dapat kugunakan melawan iman Kristen. Tiba-tiba, sinar yang terang benderang muncul di kamarku dan aku mendengar sebuah suara memanggil namaku. Cahaya itu demikian terang, ia menerangi seluruh kamar. Suara itu bertanya, `Zahid, mengapa kau menganiaya Aku?` Aku ketakutan. Aku tak tahu apa yang baru dilakukan. Kupikir aku sedang bermimpi. Aku bertanya, `Siapakah engkau?` Aku mendengar, `Akulah jalan, kebenaran, dan hidup.` Selama tiga hari berikutnya cahaya dan suara itu kembali. Akhirnya, pada malam keempat, aku berlutut dan menerima Yesus sebagai Juru Selamatku."

Kebencian Zahid tiba-tiba lenyap. Ia ingin membagikan Yesus kepada siapa pun yang ia kenal. Ia pergi kepada anggota-anggota keluarganya dan mereka yang berada di rumah ibadah dan memberitahukan apa yang telah terjadi kepadanya selama empat malam terakhir kepada mereka. Keluarga dan teman-temannya berbalik menentangnya, ia ditangkap oleh yang berwajib. Berdasarkan ajaran agamanya terdahulu, Zahid kini dianggap sebagai orang yang murtad, seorang pengkhianat bagi agama, dan dianggap seorang penjahat.

Zahid ditempatkan di dalam penjara selama dua tahun, dia disiksa berulang-ulang. Satu waktu, mereka mencabut kuku-kukunya dalam upaya mematahkan imannya; mereka mengikat rambutnya pada kipas angin di langit-langit dan membiarkannya tergantung di sana. "Walaupun aku menderita amat hebat dalam tangan penangkap-penangkapku, aku tidak menyimpan kepahitan terhadap mereka. Aku juga pernah membenci orang-orang Kristen. Menurut hukum agamaku dulu, aku harus dieksekusi dengan cara digantung."

"Mereka berusaha memaksaku untuk menarik kembali imanku dari Yesus. Tetapi aku tidak dapat menyangkal Yesus. Nabi agamaku dulu tidak pernah mengunjungiku; Yesus pernah dan aku tahu bahwa Dia adalah kebenaran. Aku hanya berdoa bagi para penjaga, berharap bahwa mereka juga akan mengenal Yesus."

Pada hari Zahid akan digantung, ia tidak takut akan kematian saat mereka datang untuk membawanya dari sel. Bahkan saat mereka menempatkan jeratan di sekeliling lehernya, Zahid berkhotbah mengenai Yesus kepada para penjaga dan pengeksekusinya. Ia ingin agar nafas-nafas terakhirnya di bumi dipergunakan untuk memberitakan kepada rekan-rekan bahwa Yesus adalah "jalan, kebenaran, dan hidup". Zahid berdiri dengan siap untuk menghadap Juruselamatnya.

Tiba-tiba, suara-suara keras terdengar di ruangan luar. Para penjaga bergegas memberitahu bahwa persidangan telah mengeluarkan perintah untuk membebaskan Zahid, menyatakan bahwa tidak terdapat cukup bukti untuk mengeksekusinya. Hingga hari ini, tak seorang pun tahu mengapa Zahid tiba-tiba diizinkan untuk pergi dengan bebas.

Zahid mengganti namanya menjadi Lazarus, merasa bahwa ia pun telah dibangkitkan dari kematian. Ia berkelana ke desa-desa di sekitar rumahnya menyaksikan kelepasannya yang ajaib dari kematian. Mereka melihat kesungguhan Zahid dan menerimanya ke dalam keluarga besar Kristen.

Bahan diambil dan diedit seperlunya dari:Judul buku : Jesus Freaks
Judul artikel : Akulah Jalan Kebenaran dan Hidup
Penulis : DC Talk dan Voice Of Martyr
Penerbit : Cipta Olah Pustaka
Halaman : 56 -- 59


Dipublikasikan di: http://kesaksian.sabda.org/akulah_jalan_kebenaran_dan_hidup

TESTIMONIAL SONG : SENTUH HATIKU

Kisah nyata - Kisah di balik lagu Sentuh Hatiku by Maria Shandi


Mungkin banyak yang dengar lagu sentuh hatiku, yang dinyanyikan oleh Maria Shandy dan Jason. Akan tetapi dibalik lagu itu ternyata ada sebuah kisah yang luar biasa.


Pencipta lagu ini adalah seorang anak Tuhan, kisah didalam lagu itu adalah milik teman sekolahnya.

Temannya itu diperkosa oleh ayahnya sendiri dan menjadi gila, sehingga harus dipasung(dirantai) dirumahnya.

Ia suka datang dan mendoakan anak itu sambil sesekali menulis lirik lagu..

waktu pun berlalu…

Diapun pindah kota dan mulai sibuk dengan kegiatannya sendiri. Suatu ketika anak perempuan itu menelpon dia. Tentu saja kaget bukan main, krn anak itu kan gila. dipasung pula? kok skrg bisa lepas? telp pula?

Akhirnya anak perempuan itu cerita, suatu hari entah karena karat atau bagaimana rantainya lepas. Satu hal yang langsung dia ingat, dia mau bunuh bapaknya!

Tetapi saat dia bangun, ia melihat Tuhan Yesus dengan jubah putihnya, berkata: “Kamu harus maafin papa kamu.”

Tetapi anak itu ga bisa dan dia terus menangis, memukul, dan berteriak.. Sampai akhirnya Tuhan memeluk dia dan berkata : “Aku mengasihimu”

Walaupun bergumul akhirnya anak itupun memaafkan papanya, mereka sekeluarga menangis dan boleh kembali hidup normal.

Dari situ lah lagu sentuh hatiku ditulis,

Betapa kumencintai
segala yang t’lah terjadi
tak pernah sendiri jalani hidup ini
selalu menyertai


Betapa kumenyadari
di dalam hidupku ini
kau slalu memberi rancangan terbaik
oleh karena kasih


Reff :
Bapa, sentuh hatiku
ubah hidupku menjadi yang baru
bagai emas yang murni
Kau membentuk bejana hatiku


Bapa, ajarku mengerti
sebuah kasih yang selalu memberi
bagai air mengalir
yang tiada pernah berhenti.

Kisah diatas sungguh2 terjadi, semoga bisa menginspirasi kita agar bisa merasakan kasih Tuhan yang luar biasa..


Untuk mendengarkan lagu ini klik disini


Sumber http://mujizatitunyata2.blogspot.com/2010/08/dibalik-lagu-sentuh-hatiku.html

MICHAEL TESTIMONIAL - TENNESSEE, USA

Kesaksian - Mujizat Nyanyian Seorang Anak



Kisah nyata ini terjadi di sebuah Rumah Sakit di Tennessee , USA . Seorang ibu muda, Karen namanya sedang mengandung bayinya yang ke dua. Sebagaimana layaknya para ibu, Karen membantu Michael anaknya pertama yang baru berusia 3 tahun bagi kehadiran adik bayinya. Michael senang sekali akan punya adik. Kerap kali ia menempelkan telinganya diperut ibunya. Dan karena Michael suka bernyanyi, ia pun sering menyanyi bagi adiknya yang masih diperut ibunya itu. Nampaknya Michael amat sayang sama adiknya yang belum lahir itu.

Tiba saatnya bagi Karen untuk melahirkan. Tapi sungguh diluar dugaan, terjadi komplikasi serius. Baru setelah perjuangan berjam-jam adik Michael dilahirkan. Seorang bayi putri yang cantik, sayang kondisinya begitu buruk sehingga dokter yang merawat dengan sedih berterus terang kepada Karen; bersiaplah jika sesuatu yang tidak kita inginkan terjadi.

Karen dan suaminya berusaha menerima keadaan dengan sabar dan hanya bisa pasrah kepada yang Kuasa. Mereka bahkan sudah menyiapkan acara penguburan buat putrinya sewaktu-waktu dipanggil Tuhan. Lain halnya dengan kakaknya Michael, sejak adiknya dirawat di ICU ia merengek terus!

Mami, … aku mau nyanyi buat adik kecil! Ibunya kurang tanggap.

Mami, … aku pengen nyanyi! Karen terlalu larut dalam kesedihan dan kekuatirannya.

Mami, … aku kepengen nyanyi! Ini berulang kali diminta

Michael bahkan sambil meraung menangis. Karen tetap menganggap rengekan Michael rengekan anak kecil.

Lagi pula ICU adalah daerah terlarang bagi anak-anak.

Baru ketika harapan menipis, sang ibu mau mendengarkan Michael. Baik, setidaknya biar Michael melihat adiknya untuk yang terakhir kalinya. Mumpung adiknya masih hidup! Ia d ice gat oleh suster didepan pintu kamar ICU. Anak kecil dilarang masuk!. Karen ragu-ragu. Tapi, suster…. suster tak mau tahu; ini peraturan! Anak kecil dilarang dibawa masuk! Karen menatap tajam suster itu, lalu katanya: Suster, sebelum menyanyi buat adiknya, Michael tidak akan kubawa pergi! Mungkin ini yang terakhir kalinya bagi Michael melihat adiknya! Suster terdiam menatap Michael dan berkata, tapi tidak boleh lebih dari lima menit!.

Demikianlah kemudian Michael dibungkus dengan pakaian khusus lalu dibawa masuk ke ruang ICU. Ia didekatkan pada adiknya yang sedang tergolek dalam sakratul maut. Michael menatap lekat adiknya … lalu dari mulutnya yang kecil mungil keluarlah suara nyanyian yang nyaring “… You are my sunshine, my only sunshine, you make me happy when skies are grey …” Ajaib! si Adik langsung memberi respon. Seolah ia sadar akan sapaan sayang dari kakaknya.

You never know, dear, How much I love you. Please don’t take my sunshine away. Denyut nadinya menjadi lebih teratur. Karen dengan haru melihat dan menatapnya dengan tajam dan terus, … terus Michael! teruskan sayang! … bisik ibunya … The other night, dear, as I laid sleeping, I dream, I held you in my hands … dan sang adikpun meregang, seolah menghela napas panjang. Pernapasannya lalu menjadi teratur … I’ll always love you and make you happy, if you will only stay the same … Sang adik kelihatan begitu tenang … sangat tenang.

Lagi sayang! bujuk ibunya sambil mencucurkan air matanya. Michael terus bernyanyi dan … adiknya kelihatan semakin tenang, relax dan damai … lalu tertidur lelap.

Suster yang tadinya melarang untuk masuk, kini ikut terisak-isak menyaksikan apa yang telah terjadi atas diri adik Michael dan kejadian yang baru saja ia saksikan sendiri.

Hari berikutnya, satu hari kemudian si adik bayi sudah diperbolehkan pulang. Para tenaga medis tak habis pikir atas kejadian yang menimpa pasien yang satu ini. Mereka hanya bisa menyebutnya sebagai sebuah therapy ajaib, dan Karen juga suaminya melihatnya sebagai Mujizat Kasih Ilahi yang luar biasa, sungguh amat luar biasa! tak bisa mengungkapkan dengan kata-kata.

Bagi sang adik, kehadiran Michael berarti soal hidup dan mati. Benar bahwa memang Kasih Ilahi yang menolongnya. Dan ingat Kasih Ilahi pun membutuhkan mulut kecil si Michael untuk mengatakan “How much I love you”.

Dan ternyata Kasih Ilahi membutuhkan pula hati polos seorang anak kecil “Michael” untuk memberi kehidupan. Itulah kehendak Tuhan, tidak ada yang mustahil bagiNYA bila IA menghendaki terjadi.

Note:
Kadang hal-hal yang menentukan, dalam diri orang lain …
Datang dari seseorang yang kita anggap lemah …
Hadir dari seseorang yang kita tidak pernah perhitungkan …


Sumber http://krenungan.org/wordpress/?p=449

FOOTPRINT BY MARGARET FISHBACK

Kesaksian - Footprints


Footprints.

One night a man had a dream. He dreamed he was walking along the beach with the Lord. Across the sky flashed scenes from his life. For each scene, he noticed two sets of footprints in the sand: one belonging to him and the other to the Lord. When the last scene of his life flashed before him, he looked back at the footprints in the sand. He noticed that many times along the path of his life there was only one set of footprints. He also noticed that it happened at the very lowest and saddest times of his life.

This really bothered him and he questioned the Lord about it. "Lord, you said that once I decided to follow you, you'd walk with me all the way. But I have noticed that during the most troublesome times of my life, there was only one set of footprints. I don't understand why when I needed you most you would leave me".

The Lord replied, "My son, my precious child, I love you and would never leave you. During your times of trial and suffering, when you see only one set of footprints, it was then that I carried you".


Terjemahannya:

Jejak kaki.

Pada suatu malam ada seseorang bermimpi. Ia bermimpi bahwa ia sedang berjalan di sepanjang pantai bersama dengan Tuhan. Di langit terlihat adegan-adegan dalam hidupnya. Untuk setiap adegan, ia memperhatikan ada dua pasang jejak kaki di pasir: satu pasang adalah miliknya dan yang lain adalah milik Tuhan. Ketika adegan terakhir dari hidupnya terlihat di hadapannya, ia melihat kembali pada jejak kaki di pasir. Ia memperhatikan bahwa seringkali di sepanjang jalan hidupnya hanya ada satu pasang jejak kaki. Ia juga memperhatikan bahwa itu terjadi pada waktu-waktu yang paling rendah dan paling menyedihkan dari hidupnya.

Ini betul-betul menyusahkan dia dan ia bertanya kepada Tuhan tentang hal itu. "Tuhan, Engkau berkata bahwa sekali aku memutuskan untuk mengikut Engkau, Engkau akan berjalan dengan aku di sepanjang jalan. Tetapi aku telah memperhatikan bahwa pada waktu-waktu yang paling menyusahkan dari hidupku, di sana hanya ada satu pasang jejak kaki. Aku tidak mengerti mengapa pada saat aku paling membutuhkan Engkau, Engkau meninggalkan aku".

Tuhan menjawab: "AnakKu, anakKu yang berharga, Aku mencintai engkau dan tidak akan pernah meninggalkan engkau. Pada saat-saat ujian dan penderitaan, ketika engkau melihat hanya ada satu pasang jejak kaki, pada saat itulah Aku sedang menggendong engkau".



Kisah Terciptanya Sajak FootPrints


Tahukah anda cerita di balik terciptanya sajak ‘FOOTPRINTS’ (Telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan judul : Jejak – Jejak kaki).

Sajak tersebut telah menyentuh hati jutaan orang di seluruh dunia. Namun tidak banyak orang mengetahui siapa pengarang sajak itu. Juga tidak banyak orang tahu apa latar belakang lahirnya sajak itu. Lebih-lebih lagi tidak banyak orang tahu bahwa sajak yang berjudul ‘Jejak’ (aslinya : ‘Footprints’) sebenarnya adalah buah pena masa berpacaran di suatu senja di tepi danau.

Pengarang sajak itu adalah Margaret Fishback, seorang guru sekolah dasar Kristen untuk anak-anak Indian di Kanada. Margaret sangat pendek dan kecil untuk ukuran orang Kanada. Tinggi badannya hanya 147 cm. Tubuhnya ramping dan wajahnya halus seperti anak kecil. Karena itu walaupun ia sudah dewasa dan sudah menjadi ibu guru ia sering diberi karcis untuk anak-anak kalau berdiri di depan loket atau kalau naik bis.

Margaret dibesarkan dalam keluarga yang bersuasana hangat dan penuh kasih. Namun ada beberapa peristiwa yang terasa pahit dalam kenangan masa kecilnya. Yang pertama adalah pengalamannya ketika ia menjadi murid kelas satu sekolah dasar. Ia mempunyai kenangan buruk tentang gurunya. Margaret berlogat Jerman karena ayahnya berasal dari Jerman. Lalu tiap kali Margaret melafalkan sebuah kata Bahasa Inggris dengan logat Jerman jari-jari tangannya langsung dipukul oleh gurunya dengan sebuah tongkat kayu. Tiap hari jari-jari tangan Margaret memar kemerah-merahan.’Jangan bicara dengan logat Jerman. Pakai logat yang betul, kalau tidak ... !’ Itulah ancaman dan amarah yang didengar Margaret setiap hari. Dan ia sungguh takut. ‘Tiap hari aku berangkat ke sekolah dihantui oleh rasa takut. Aku heran mengapa aku dimarahi. Apa salahku ? Apa salahnya orang berbicara dengan logat Jerman ? Baru kemudian hari aku tahu bahwa pada waktu itu sedang berlangsung Perang Dunia II, sehingga orang Jerman dibenci di Amerika dan Kanada,’ ucap Margaret mengenang masa kecilnya.

Kenangan pahit lain yang diingat Margaret adalah tentang dua teman perempuannya di kelasnya. ‘Aku akrab dengan semua teman dan mereka senang bermain dengan aku, kecuali dua orang teman perempuan yang kebetulan berbadan besar. Kedua teman itu sering menjahati aku. Untung ada seorang teman laki-laki yang selalu melindungi aku. Namun pada suatu hari teman laki-laki itu tidak masuk ke sekolah. Lalu kedua teman perempuan yang berbadan besar itu menjatuhkan aku dan duduk di atas perutku sambil menggelitiki aku. Aku kehabisan nafas. Untung tiba-tiba ada orang yang lewat sehingga aku dilepas. Langsung aku lari ketakutan sampai aku jatuh dan pingsan. Selama beberapa hari aku terbaring sakit. Tetapi yang lebih parah lagi, selama beberapa bulan aku ketakutan,’ kenang Margaret.

Juga tentang masa dewasanya Margaret mempunyai pengalaman yang menakutkan. Pada suatu siang yang bercuaca buruk, ketika ia sedang mengajar di kelas, tiba-tiba jendela terbuka dan petir menyambar sekujur tubuh Margaret. Ia jatuh terpental di lantai. Setelah dirawat di rumah sakit, ia tetap mengidap penyakit yang tidak tersembuhkan. Urat syarafnya terganggu sehingga ia sering bergetar. Bukan mustahil semua pengalaman buruk itu turut mewarnai lahirnya sajak ‘Jejak’ ini, yang dikarang oleh Margaret ketika ia sudah mempunyai tunangan yang bernama Paul. Hari itu Margaret dan Paul berangkat menuju suatu tempat perkemahan di utara Toronto untuk memimpin retret. Di tengah perjalanan, mereka melewati danau Echo yang indah. ‘Mari kita jalan di pantai,’ usul Margaret. Dengan semangat mereka melepaskan sepatu lalu berjalan bergandengan tangan di pantai pasir.

Ketika mereka kembali dan berjalan ke arah mobil mereka, dengan jelas mereka mengenali dua pasang jejak kaki mereka di pasir pantai. Namun di tempat-tempat tertentu gelombang air telah menghapus satu pasang jejak itu. ‘Hai Paul, lihat, jejak kakiku hilang,’ seru Margaret. ‘Itukah mungkin yang akan terjadi dalam impian pernikahan kita? Semua cita-cita kita mungkin akan lenyap disapu gelombang air,’ lirih Margaret. ‘Jangan berpikir begitu,’ protes Paul. ‘Aku malah melihat lambang yang indah. Setelah kita menikah, yang semula dua akan menjadi satu. Lihat itu, di situ jejak kaki kita masih ada lengkap dua pasang.’ Mereka berjalan terus. ‘Paul, lihat, di sini jejakku hilang lagi.’ Paul menatap Margaret dengan tajam, ‘Margie jalan hidup kita dipelihara Tuhan.

Pada saat yang susah, ketika kita sendiri tidak bisa berjalan, nanti Tuhan akan mengangkat kita. Seperti begini...’ Lalu Paul mengangkat tubuh Margaret yang kecil dan ringan itu dan memutar-mutarnya. Malam itu setibanya mereka di tempat retret, Margaret yang adalah pengarang kawakan menggoreskan pena dan menuangkan ilham pengalamannya tadi di pantai. Kalimat demi kalimat mengalir. Dicoretnya sebuah kalimat, diubahnya kalimat yang lain. Ia berpikir, menulis, termenung, mencoret, menulis lagi, termenung lagi, mencoret lagi.......Seolah-olah bermimpi, dalam imajinasinya ia merasa berjalan bersama dengan Tuhan Yesus di tepi pantai. Ketika berjalan kembali ia melihat dua pasang jejak kaki, satu pasang jejaknya sendiri dan satu pasang jejak Tuhan. Tetapi... dan seterusnya. Margaret melihat lonceng. Pukul 3 pagi ! Cepat-cepat diselesaikannya tulisannya, lalu ia tidur. Keesokan harinya, begitu bangun, ia langsung membaca ulang tulisannya. Ah, belum ada judulnya. Margaret berpikir sejenak lalu membubuhkan judul ‘Aku Bermimpi’. Ia mengubah beberapa kata dan kalimat. Dan lahirlah sajak yang sekarang kita kenal dengan judul ‘Jejak’. Pada hari itu juga dalam kebaktian, sajak itu dibacakan Paul. Paul berkata, ‘... ada saat di mana kita merasa seolah-olah Tuhan meninggalkan kita. Musibah menimpa kita dan jalan hidup kita begitu sulit. Kita bertanya mengapa Tuhan tidak menolong kita. Sebenarnya Tuhan sedang menolong kita. Tuhan sedang mengangkat kita.’ Lalu Paul membacakan sajak karya Margaret :

One night I dreamed a dream.
I was walking along the beach with my Lord.
Across the dark sky flashed scenes from my life.
For each scene, I noticed two sets of footprints in the sand,
One belong to me and one to my Lord.
When the last scene of my life shot before me,
I looked back at the footprints in the sand.
There was only one set of footprints.
I realized that this was the lowest and the saddest times of my life.
This always bothered me and I questioned the Lord about my dilemma.
‘Lord, You told me when I decided to follow,
You would walk and talk with me all the way.
But I'm aware that during the most troublesome times of my life,
There is only one set of footprints.
I just don't understand why, when I need You most, You leave me.’
He whispered, ‘My precious child, I love you and will never leave you never, ever, during your trials and testings.
When you saw only one set of footprints,
It was then that I carried you.’

Seluruh peserta retret duduk terpaku mendengarnya. Mereka termenung menyimak kedalaman arti yang terkandung sajak itu. Sekarangpun tiap orang termenung setiap kali membaca sajak itu. Sajak itu mengajak kita menelusuri perjalanan hidup kita. Dalam perjalanan itu telapak kaki kita dan telapak kaki Tuhan Yesus membekas bersebelahan. Tetapi pada saat-saat dimana musibah menimpa dan perjalanan menjadi sulit serta berbahaya, ternyata yang tampak hanya telapak kaki Tuhan. Telapak kali kita tidak tampak, padahal telapak kaki Tuhan membekas dengan jelas. Mana telapak kaki kita ? Telapak kaki kita tidak ada, sebab pada saat-saat seperti itu kita sedang diangkat dan digendong Tuhan.


Dari berbagai sumber.

ADVENT BANGUN TESTIMONIAL - YESTERDAY MY GOD WAS A KARATE

Kesaksian - Advent Bangun : Tuhan Saya Itu Karate


Telah menjadi tekadnya, hidup dan matinya akan ia berikan bagi kecintaannya terhadap bela diri. Menjadi juara karate selama dua belas tahun berturut-turut, adalah bukti bahwa Advent Bangun sangat serius menekuni olahraga tersebut. Bahkan keahliannya dalam bidang bela diri ini membawanya melanglang buana dalam dunia film laga, dirinya mencatat telah membintangi 60 film.

“Dulu.. Tuhan saya itu karate,” demikian ungkap pria yang bernama lengkap Thomas Advent Bangun ini.

Awal ketertarikan Advent kepada karate bermula dari pengalaman traumatis yang menghantuinya.

Suatu malam, Advent Bangun pulang bersama dengan kakak perempuannya melewati sebuah bioskop. Di pinggir bioskop itu banyak anak-anak muda yang sedang berkumpul sambil minum-minuman keras.

“Mereka lihat kakak saya, dipikir perempuan nakal. Karena diganggu, saya lawan. Saya langsung dipukulin sama sekitar 30an orang. Saya dihajar sama 30 orang itu, rasanya seperti slow motion semua. Sampai ada yang ambil pisau, saya mau ditikam tapi saya bisa loncat ke belakang seperti salto gitu.” Advent bangun yang tidak berdaya di hajar oleh massa terus meronta, dan ketika bisa lepas dari mereka ia segera lari sekencang mungkin. Kejadian itu menyisakan rasa sakit dan dendam di hati Advent.

Hingga ia suatu saat ia melihat sebuah latihan karate, dimana mereka dengan tangan kosong mampu menghancurkan es balok dan papan, timbul keyakinan dalam hatinya, “Kalau saya latihan seperti itu, 100 orang juga bisa dibabat.”

Ia pun mendaftar untuk ikut latihan karate itu. Dendam dan rasa sakit dihatinya, membuat dirinya berlatih ekstra keras, “Kalau orang latihan sejam, saya dua jam. Kalau yang lain latihan dua jam, saya empat jam. Saya ngga mau kalah sama orang, saya harus the best..!”

Dendam dalam hati Advent, dilampiaskannya sewaktu bertarung. Jika belum membuat lawan babak belur, ia belum merasakan kepuasan. Sakit hati yang begitu dalam itu dikarenakan apa yang ia alami sewaktu kecil. Saat itu, kakak kecilnya menganiayanya dengan begitu kejam.

“Saya ditarik ke sungai, sungainya dangkal, dan saya di injak-injak disitu. Saya banyak minum air waktu itu, sudah hampir mati, tapi untung ada orang yang lihat. ‘Woi.. itu Advent Bangun mau dibunuh sama abangnya!!’ Semua orang datang dan akhirnya abang saya lari.”

Setiap pertandingan, menjadi ajang pelampiasan dendam baginya. Satu hal yang ia inginkan, juara. Advent tidak mau membagi posisi puncak di dunia karate dengan siapapun.

“Begitu dimulai, kaki kanan saya itu seperti punya mata. Begitu jaraknya sesuai, dia otomatis keluar. Waktu itu saya seperti marah. Setiap saya bisa melampiaskannya, saya merasa puas. Puas banget! Dan orang semakin takut sama saya, sampai saya dapat gelar ‘dokter gigi’ karena saya hobinya bikin gigi rontok.”

Begitu dikuasai oleh amarah dan dendamnya, sifat keras Advent Bangun ini terbawa dalam kehidupan rumah tangganya.

“Sesudah menikah, saya kaget karena saya mengenal dia tidak cukup lama. Hanya selama enam bulan. Selama saya mengenal itu, saya lihat dia bisa sabar menunggu saya pulang kantor. Ternyata tidak sepenuhnya seperti itu. (Sesudah menikah) waktu pergi ke mall atau ke super market, rupanya dia menunggu saya kelamaan. Saya dateng, dia langsung marah, dan langsung banting pintu,” ungkap istri Advent, Louis Sulingga.

Bukan hanya tidak sabar, Advent ternyata juga pria pencemburu. Jika istrinya pulang tidak tepat waktu, maka sang istri akan menerima luapan amarahnya. Louis sempat merasa menyesal telah menikahi pria yang ditolak oleh kedua orangtuanya tersebut.

“Saya merasa kok rumah tangga saya seperti ini. Saya berdoa, ‘Tuhan tolong saya, kalau semua ini terjadi karena kesalahan saya, karena dosa-dosa saya, saya minta ampun. Saya mau bertobat, saya mau kembali sama Tuhan. Tuhan Yesus tolong saya. Pulihkan rumah tangga saya, buka jalan bagi hidup saya,’” demikian Louis kembali berharap pada Tuhan agar dapat memulihkan kehidupan rumah tangganya.

Menghadapi Advent yang temperamental dan keras, Louis seperti tidak berdaya. Apalagi ketika Advent tidak senang dengan gereja yang dikunjungi oleh Louis.

“Kalau kamu kegereja itu lagi, awas kamu! Saya hajar kamu! Apa itu, lompat-lompat, nyanyi-nyanyi, muji-muji! Gereja apaan itu! Sesat itu!” demikian Advent mencerca istrinya. Karena istrinya memilih gereja yang tidak sesuai dengan keinginan hatinya, Advent tidak mau sekamar lagi dengannya selama satu tahun.

“Jijik.. marah..” Advent menceritakan perasaannya kala itu.

Louis hanya bisa berlari ke kamarnya dan menangis kepada Tuhan. Ia memohon kepada Tuhan agar terus diberikan kekuatan untuk mengasihi Advent. Cintanya pada Tuhan, mengalahkan rasa takut Louis kepada Advent, entah mendapat kekuatan dari mana, Louis membuat keputusan yang sangat berani. Ia mengatakan dengan jujur kepada Advent bahwa dirinya ingin dibabtis selam.

“Itu mau meledak rasanya,” ungkap Advent. Wajahnya memerah, dan dia hanya bisa menatap istrinya sambil menahan amarah. Namun sungguh ajaib, yang terlontar dari mulutnya adalah, “Ya udah, aku anterin kamu.”

Benar, seperti yang dikatakannya. Advent mengatarkan istrinya untuk dibabtis selam. Saat mengikuti ibadah sebelum acara pembabtisan itu, sesuatu terjadi dalam hidup Advent.

“Hamba Tuhan itu mengkotbahkan tentang kuduslah kamu sebab aku kudus. Ada dua ayat, yaitu 1 Petrus 1:16 dan Ibrani 12:14, Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan. Firman itu keras, seperti saya kena tendangan di dada saya. Kedua firman itu membuat saya menangis, saya terlalu banyak marah, dendam, benci pada semua orang. Jadi disitu saya seperti tertemplak, seperti ditampar..”

Advent yang malu menangis di depan orang lain, berseru kepada Tuhan di balik sebuah tiang gereja itu. Dia benar-benar menyadari bahwa dirinya memerlukan Tuhan untuk mengubah hidupnya. Sepulangnya dari pembabtisan istrinya, dia bicara empat mata dengan Louis, “Mah, saya mau pelepasan dan saya mau dibabtis.”

Namun setelah memutuskan untuk bertobat, proses yang harus dijalani Advent tidaklah mudah. Apa lagi saat ia diperingatkan oleh istrinya tentang kebanggaannya pada semua pialanya, hal itu membuat Advent berang. Tiga hari ia mendiamkan istrinya, Advent merenung dan matanya tertuju pada sebuah ayat.

“Saya lagi baca firman, Filipi 3:7-8, saya sangat kaget membaca firman itu: Semua ku anggap rugi setelah pengenalan akan Kristus. Semua ku anggap sampah. Yesus lebih mulia dari segala-galanya.”

( Filipi 3:7-8 :
7 Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus.
8 Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus, )


Setelah perenungan yang dalam akan ayat tersebut, Advent sadar bahwa dirinya telah terikat dengan semua piala dan kesombongannya. Ia menyingkirkan semua piala-pialanya dan mengucapkan selamat tinggal kepada kesombongan. Sejak itu Thomas Advent Bangun memutuskan hubungan dengan dunia karate. Karate bukan lagi Tuhan dalam hidup Advent, dia memilih Yesus yang menjadi penguasa tunggal atas kehidupannya. (Kisah ini ditayangkan 22 Juni 2011 dalam acara Solusi Life di O’Channel).



Lihat videonya kesaksiannya



Sumber Kesaksian:

Thomas Advent Bangun (jawaban.com)